Uma, Rumah Adat Sumba

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews

Pulau Sumba berada di provinsi Nusa Tenggara Timur, masyarakatnya memiliki ajaran agama ’Marapu’ yang mempercayai kekuasaan Ilahi dari ’Mawolu Marawi’. Selain itu juga ada kepercayaan terhadap roh-roh penjaga hutan, sungai dan lain-lain. Kepercayaan tentang kehidupan setelah kematian diwujudkan dengan adanya batu-batu kubur di halaman rumah. Dalam batu kubur ini posisi jenazah diatur dengan tangan berlipat, kaki ditekuk dan ditidurkan menyamping layaknya bayi saat lahir. Di sekitar batu kubur juga dibuat patung dan relief yang menggambarkan roh leluhur.

Rumah adat masyarakat Sumba diberi nama ’Uma’. Setiap uma memiliki nama berdasarkan status sosial penghuninya. Untuk rumah masyarakat biasa bernama ’Uma Marapu Manu’, untuk rumah pemimpin permukiman bernama ’Uma Rato’, untuk rumah ketua adat bernama ’Uma Delo’, dan bangunan untuk bermusyawaran diberi nama ’Uma Wawine’.

’Uma’ merupakan bangunan yang memiliki atap perisai tinggi di bagian atas dengan kemiringan yang sangat curam. Di bagian bawah atap yang proporsinya lebih kecil dibuat dengan kemiringan landai. Proporsi antara atap dengan dinding juga demikian berbeda sehigga dinding hampir tidak kelihatan. Bubungan atap merupakan runag positif yang berfungsi secara optimal. Ruang dalam bubungan bagian atas dipergunakan untuk menyimpan bibit dan bahan makanan dengan nama ’uma dalo’, di bawahnya adalah tempat menyimpan makanan sehari-hari yang dinamakan ’pedalolo’, dibawahnya lagi adalah ruang tidur yang dinamakan ’katendeng’. Bagian terbawah dari ruang ’Uma’ adalah ’katonga tana’ yang berfungsi sebagai balai tempat pijakan kaki sebelum memasuki rumah. Bagian bawah bangunan berbentuk panggung dengan teras yang tidak berpagar. Finishing konstruksinya cenderung tidak rapi dan tidak tersistem secara kaku. Dindingnya berupa jajaran kayu yang bertumpuk-tumpuk diletakkan dalam posisi horizontal.

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews


About this entry