Rumoh Aceh, Rumah Adat Aceh

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews

Sistem kesatuan masyarakat Aceh merupakan gabungan dari beberapa keluarga inti yang disebut dengan ’Gampong’. Dalam satu ‘Gampong’ hubungan keluarga inti sangat erat. Setiap kegiatan yang diperbuat oleh satu keluarga inti akan berpengaruh pada keluarga inti lain. susunan masyarakatnya dibedakan menjadi empat golongan yaitu golongan rakyat biasa, golongan hartawan, golongan ulama/cendekiawan dan golongan bangsawan/keluarga raja. Golongan rakyat biasa dapat berubah sesuai dengan upayanya dalam kehidupan hingga menetapkan diri menjadi golongan hartawan atau ulama. Sedangkan golongan bangsawan hanya merupakan keturunan Raja atau Sultan dengan gelar ‘Tuanku’, ‘Teuku’ (untuk laki-laki) dan ‘Cut’ (untuk perempuan).

Dalam budaya Aceh dikenal adanya ‘peusijuk’ (semacam persembahan materi). Jika dikaitkan dengan rumah sebagai hunian terdapat aturan yang dinamakan ‘peusijuk tempat tinggal’ dan ‘peusijuk peudeung rumoh’. Peusijuk tempat tinggal mengatur hubungan masyarakat dari individu yang baru ‘mendiami rumah’, dilaksanakan dengan mengundang tiga orang, lima orang dan seterusnya dalam jumlah ganjil. Peusijuk peudeung rumoh mengatur hubungan masyarakat dari individu yang akan ‘membangun rumah’. Adat kebiasaan tersebut dilakukan pada awal konstruksi, ditujukan untuk tukang yang mengerjakan dan bangsawan tertentu agar semua mendapat berkah dari Sang Pencipta.

Bangunan hunian dalam budaya Aceh disebut dengan ‘Rumoh’. Saat mendirikan rumoh dilakukan upacara adat dengan melakukan doa-doa sesuai ajaran Islam. Upacara tersebut dilakukan untuk memohon keselamatan dari Sang Pencipta dan kepedulian terhadap roh-roh gaib serta benda-benda keramat. Ada tiga tahap upacara, pertama adalah pengambilan bahan bangunan utama berupa kayu di hutan, kedua adalah saat membangun rumah dan ketiga saat rumah selesai dan akan ditempati. Pelaksanaan upacara dan pembangunan dilakukan secara bergotong-royong mengundang sanak dan famili serta masyarakat lainnya dan dipimpin oleh seorang tokoh adat yang berjuluk ’Raja’ (Reje).

Upacara pengambilan bahan dari hutan dilakukan dengan memotong korban seperti sapi, kerbau, kambing sampai itik/ayam dan dagingnya dimasak untuk dimakan bersama. Selanjutnya kayu hasil pemotongan di hutan disatukan dan diikat dengan rotan, di mana jumlah pengikat rotan ini disesuaikan dengan jumlah ‘belah’ (keluarga inti dari gampong) yang hadir. Setiap ‘belah’ memegang satu pengikat rotan. Saat menarik kayu, para wanita memukul canang dan anak-anak menyorakinya.

Upacara pendirian rumah juga diawali dengan penyembelihan korban dan makan bersama. Setelah acara ini selesai, penghuni menghubungi ’Keuchik’ (Kepala Desa) untuk menentukan hari baik membangun rumah. Pada hari yang ditentukan dilakukan lagi upacara ’tanom kurah’ (perletakan batu pertama). Penanaman kurah dilakukan pada tengah malam jam 12 tepat. Dalam upacara ini ditanamkan ’kanot tanoh’ (periuk) pada alas tiang utama.

Keesokan harinya penghuni melakukan upacara ’peseujik’, setelah selesai barulah tiang-tiang utama dipasang. Untuk mendirikan tiang dipancangakan kayu-kayu yang bagian atasnya diikatkan kayu bulat secara horisontal sebagai tempat tali saat menarik tiang konstruksi rumah. Setelah semua tiang naik kemudian dipasang pasak. ’Raja’ sebagai pemimpin adat dalam awal proses konstruksi ini berada di atas mengarahkan pendirian tiang. Setelah semua tiang berdiri dan dipasak, maka ’Raja’ turun dan menyerahkan proses selanjutnya kepada tukang serta menetapkan bahwa upacara telah selesai.

Upacara yang terakhir sebagai adat sebelum penghuni menempati rumah memiliki dua rangkaian. Rangkaian pertama dinamakan ’peseujik utoh’ (untuk tukang) dan rangkaian kedua dinamakan ’kenduri E rumoh baro’ (selamatan menempati rumah baru). Peseujik utoh merupakan acara makan bersama tukang disertai penyelesaian ongkos pengerjaan rumah, biasanya penghuni memberikan pula seperangkat pakaian seperti celana, sarung dan kopiah. Kenduri E rumoh baro dilakukan sore hari setelah shalat maghrib dengan mengundang semua yang terlibat dalam proses pembangunan rumah, termasuk utoh (tukang).

Struktur rangka rumoh Aceh cukup sederhana dengan bentuk grid. Tiang-tiang rumah disambung dengan balok-balok hingga membentuk dua bagian atas dan bawah. Bagian atas digunakan untuk ruang hunian, sedang bagian bawah adalah kolong. Bentuk rumah panggung ini dicapai dengan tangga yang dapat terletak di samping rumah atau di bagian kolong. Pada beberapa rumah, tangga tersebut dibuat lebar hingga mencapai 3 meter. Dari depan struktur ini dibagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian utama yang berada di tengah dan dua bagian samping sebagai sayap di kanan dan kirinya. Bagian tengah diselesaikan dengan plafond, sedangkan bagian sampingnya tidak. Lantai bagian tengah dibuat lebih tinggi dari bagian sampingnya.

Atap rumoh Aceh berbentuk pelana lurus sedernana. Keunikannya terletak pada pengolahan gevel depan rumah yang agak maju. Pada gevel ini aksentuasi rumah ditetapkan dan dihias dengan ukiran. Keunikan lain dari rumoh Aceh adalah ukiran pada bagian bawah dinding di atas kolong. Ukiran dalam bentuk papan panjang tersebut biasanya diberi warna yang lebih menyolok daripada warna dinding.

Dinding rumah bagian atas yang sejajar dengan alas kuda-kuda diberi karawang berukir berlubang, berbeda dengan dinding di bagian bawah yang lebih tertutup. Jendela rumah dibentuk dalam ukuran yang sesuai dengan modul struktur rangka dinding.Kolom-kolom dari rumoh Aceh berpenampang lingkaran, sedangkan balok-baloknya berpenampang segi 4. pertemuan balok menembus kolom diselesaikan dengan melebihkan bagian balok sehingga terlihat sebagai sambungan yang ‘tektonis’. Penopang bawah dari kolom yang menapak tanah diberi pondasi umpak setempat yang berbentuk piramida terpancung.

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews


About this entry