Rumah Lanting, Rumah Adat Banjar

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews

Salah satu rumah adat masyarakat banjar adalah rumah lanting, rumah terapung tradisional yang membentuk komunitas permukiman di atas sungai. Rumha lanting memiliki atap pelana, berdinding tertutup dengan dua jendela yang berada di depan. Arah depan rumah ini menghadap ke tanah, sedang arah belakangnya menghadap ke sungai. Ada pintu masuk depan untuk menerima tamu dan pintu masuk belakang untuk menuju perahu yang dipergunakan sebagai sarana transportasi sungai. Walau rumah lanting cenderung menetap di satu tempat dengan tambatan yang ditancapkan dengan tonggak di tepi sungai, namun adakalanya dapat berpindah melalui sungi menuju tempat lain. Dengan demikian konstruksi rumah lanting juga harus berbentuk rakit yang mampu melintasi sungai.

Ruang dalam rumah lanting terdiri dari 2 bagian, yakni ruang tamu di depan dan ruang tidur di belakang. Runag tamu juga berfungsi untuk tempat memasak, sedangkan ruang tidur hanya untuk aktifitas pribadi. Ruang luarnya merupakan halaman di atas geladak alas terapung dari rumah. Ada pula geladak lepas muntuk menghubungkan rumah ini dnegan daratan. Kamar mandi/WC terletak di luar rumah, di atas geladak apung. Saat komunitas rumah lanting masih sedikit, pembuangan tinja ke sngai tidak menjadi masalah. Namun saat ini hal tersebut perlu mendapat perhatian agar tidak terjadi pencemaran air sungai.

Pembuatan rumah lanting diawali dengan merangkai alas apungnya terlebih dahulu. Pekerjaan pembuatan alas apung ini dilakukan di daratan tepi sungai. Alas apung yang dari kayu dibuat dengan mengumpulkan jajaran kayu gelondongan yang berdiamenter kurang lebih 75 cm. Kayu ini dirangkai dengan jajaran balok lain yang lebih kecil diameternya dan diletakkan di bagian atas. Setelah alas apung terangkai, lalu dimasukkan ke sungai dan diikat dengan tali yang diikat dengan tonggak yang ditancapkan ke tanah agar tidak terbawa arus sungai. Proses selanjutnya adalah mendirikan tiang-tiang rumah dan merangkainya dengan balok-balok penyangga atap. Selanjutnya dibuatlah kuda-kuda disertai langkah penyelesaian konstruksi rerangka atap. Setelah penutup atap dipasang, dilanjutkan dengan membuat rangkaian penutup lantai. Pembuatan partisi dinding lengkap dengan pintu dan jendelanya mengakhiri pekerjaan konstruksi pembuatan rumah lanting.

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews


About this entry