Rumah Lancang, Rumah Adat Kampar

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews

Wilayah Kampar terletak di Provinsi kepulauan Riau pada posisi yang lebih dekat dengan Minangkabau. Rumah adatnya disebut dengan ’Rumah Lancang’. Arti kata ’lancang’ adalah perahu, hal ini dikarenakan beberapa bagian rumah memiliki kemiripan dengan bentuk perahu. Rumah lancang terwujud dari struktur rangka dengan bentuk rumah panggung. Bagian bawahnya dapat digunakan untuk berternak atau keperluan lain sepertiu tempat bermain anak dan mengerjakan kerajinan. Namun ada pula yang lantai panggungnya terlalu sehingga kolong tidak dapat dipergunakan untuk kegiatan. Dinding rumah agak miring dan atapnya berbentuk pelana yang cukup curam. Lisplank pada ujung atas gevel diteruskan dan membuat hiasan berbentuk huruf ’V’. Lubang-lubang jendela dihias dengan ornamen dengan bentuk indah yang menerus ke dinding.

Ruang dalam rumah lancang terbagi menjadi tiga bagian. Ruang yang bersifat publik disebut ’alam berkawa’, digunakan untuk pertemuan warga kampung dan upacara adat, sebagian untuk ruang tidur pemilik rumah. Ruang yang bersifat semi publik disebut ’alam bersamak’, digunakan untuk pertemuan dan bagian dari ruang tidur wanita untuk kerabat keluarga. Ruang yang bersifat prifat disebut ’alam semalu’, digunakan untuk menyimpan barang pribadi dan keperluan sehari-hari (disebut ’sulo pandan’) termasuk dapur (disebut ’pedapuan’). Pedapuan digunakan untuk memasak, makan, pertemuan ibu dan tempat tidur anak gadis.

Sebelum membangun rumah, pemilik harus melakukan pertemuan dengan kepala suku. Pertemuan adat ini juga untuk menyampaikan berbagai aturan adat dalam pembangunan rumah, ditujukan kepada pemilik serta masyarakat lain yang hadir. Setelah pertemuan selesai, dilakukan persiapan tempat pembangunan rumah. Memilih lokasi pembangunan juga disesuaikan dengan adat dari posisi seseorang di dalam keluarga dan hubungannya dengan rumah keluarga lain. Pemilihan tempat ini dengan upacara yang disebut ’manogakkan rumah’.

Tempat yang dipilih merupakan lokasi yang dianggap baik riwayatnya. Tanah untuk berdirinya rumah lancang dianggap tidak baik jika tidak jelas kepemilikannya, membelakangi dan melangkahi tanah orang yang lenih tua, merupakan bekas makam, terlalu banyak gambut/pasir/batu, jauh dari mata air/sungai, mengganggu jalur jalan serta tanah yang merupakan bekas kecelakaan dan wabah penyakit. Tanah baik adalah yang bertopografi datar dan banyak unsur lempungnya.

Tahap selanjutnya dalam membangun rumah lancang adalah mengumpulkan bahan bangunan. Pemilihan bahan dilakukan secara adat pula dengan tukang yang ditentukan oleh pertemuan. Tradisi masyarakat Kampar sudah memiliki beberapa aturan dalam memilih bahan kayu di hutan untuk menentukan kayu yang tergolong baik dan tidak. Sebelum digunakan, bahan kayu harus diolah terlebih dahulu dengan ritual tertentu dan disimpan sampai beberapa bulan sampai pada waktu yang ditentukan dijemur atau dipanasi dengan api.

Pembangunan rumah lancang melalui tiga tahap dengan sebutan ’rumah lako’, ’rumah siap’ dan ’rumah didandani’. ’Rumah lako’ adalah penguatan alas rumah dan pendirian rerangka utama. ’rumah siap’ adalah tahap memasang elemen-elemen non struktural berupa lantai dan atap. ’rumah didandani’ adalah tahap pemasangan dinding, jendela, pintu, ragam hias dan finishing.

Oranamentsi dan dekorasi rumah kampar terdiri dari berbagai jenis hiasan yang bersumber dari tumbuhan, binatang, manusia dan kaligrafi. Hiasan tumbuhan berupa sulur-suluran daun dengan variasi bunga-bunga, sedangkan hiasan binatang adalah jenis itik, semut dan ular. Warna yang digunakan baik untuk dinding keseluruhan maupun untuk ragam hias adalah warna merah, putih, hitam, kuning dan emas. Khusus kaligrafi dapat diberi tambahan dengan warna hijau.

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews


About this entry