Rumah Belah Bubung, Rumah Adat Riau

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews

Istilah untuk Rumah Riau diperuntukkan bagi wilayah di Provinsi Kepulauan Riau yang terletak pada pulau-pulau kecil di sisi Timur Sumatera, tepatnya di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Rumah adatnya dinamakan dengan ’rumah belah bubung’. Cirinya berbentuk panggung yang cukup tinggi hingga lantainya mencapi 2 meter dari atas tanah, atapnya berbentuk perisai, berbubungan lurus yang di bagian atasnya berbentuk pelana dengan hiasan pada lisplank. Dinding rumah cenderung tegak dan memiliki teras depan dengan kanopi beratap pelana. Pada kanopi inilah aksentuasi bangunan ditentukan dengan menghias gevel dan lisplank.

Morfologi bentuk rumah bubung juga diberi nama-nama yang lain oleh masyarakat melayu Kepulauan Riau. Rumah belah bubung yang kemiringan atapnya curam disebut ’lipat pandan’, jika atapnya agak mendatar disebut ’lipat kajang’, jika bagian bawah atapnya diberi tambahan atap lain disebut dengan ’ampar labu’, jika bubugannya sejajar jalan disebut dengan ’perabung panjang’, dan jika bubungannya melintang jalan disebut dengan ’perabung melintang’.

Denah rumah belah bubung terbagi menjadi 4 bagian yaitu selasar, rumah induk, ruang penghubung dapur dan dapur. selasar yang posisi level lantainya lebih rendah dari lantai utama disebut dengan ‘selasar jatuh’. Selasar yang sejajar dengan lantai utama disebut dengan ‘selasar dalam’. Rumah induk terbagi menjadi ruang muka, tengah dan dalam.

Ruang muka ditempati ibu dan keluarga perempuan serta anak-anak berusia sampai 7 tahun. Ruang tengah ditempati penghuni laki-laki. Ruang dalam ditempati orang tua/pemilik rumah. Ruang penghubung dapur digunakan untuk menyimpan air konsumsi rumah dan alat pertanian/nelayan.

Sesorang yang akan membangun rumah terlebih dahulu melakukan pertemuan dengan tetangga yang bertempat di rumah orang tuanya atau saudara tertuanya. Hasil pertemuan merupakan kesepakatan yang mengikat pemilik serta masyarakat sebagai aturan bersama. Setelah ditemukan kesepakatan, pemillik pergi ke rumah ’orang pandai’ untuk memilih tanah. Pemilihan tanah melibatkan ritual yang berkaitan dengan pemilik. Kegiatannya dengan penancapan tongkat, pengambilan contoh tanah, dan tafsiran mimpi dari pemilik rumah. Jika tanah yang dipilih ditetapkan sebagai lokasi yang baik, maka diadakan upacara adat dengan memotong hewan kurban seperti ayam, kambing atau kerbau. Pemotongan hewan tersebut untuk kurban yang dimakan bersama masyarakat dan tukang yang akan mengerjakan rumah.

Tahap selanjutnya adalah pengumpulan bahan bangunan. Bahan kayu dipilih dengan ketentuan yang sudah diketahui masyarakat Kepulauan Riau agar mendapat kualitas yang baik. Contoh kayu yang tidak baik adalah kayu dari pohon yang dililit akar, kayu yang berlubang, kayu yang pohonnya sedang berbunga dan kayu bekar tebangan orang lain. Setelah didapatkan kayu yang diperkirakan cukup untuk membangun rumah, maka dilakukan perendaman hingga mecapai waktu 3 bulan.

Setelah waktunya tiba, kayu tersebut dikeringkan dan dipilah-pilah sesuai dengan elemen konstruksi rumah. Kepala tukang memerintahkan anak buahnya agar kayu-kayu tersebut dipotong, dibelah, dipahat dan dihaluskan. Dalam proses yang cukup lama ini, kayu hasil pekerjaan tukang disimpan di tempat yang kering dan teduh. Setelah semua elemen konstruksi utama dibuat dengan lengkap, maka dilakukan upacara untuk mengawali pemancangan tiang yang disebut upacara ‘menegakkan rumah’ dan biasanya diadakan pada hari jumat pagi. Setelah upacara selesai, tiang-tiang utama ditegakkan dan dirangkai dengan balok-balok. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan elemen konstruksi lain dengan urutan dari bagian bawah/kolong, tengah/dinding, dan atas/atap.

Oranamentsi dan dekorasi rumah belah bubung bersumber dari elemen alam, tumbuhan, binatang, dan kaligrafi. Ornamentasi ini memiliki perlambang tertentu. Sebagai contoh ornamen ‘daun bersusun’ melambangkan kasih sayang, ornamen ‘daun bersanggit’ melambangkan kehidupan bermasyarakat, ornamen akar-akaran melambangkan berbagai prinsip kehidupan, dan ornamen binatang melambangkan kegotong-royongan kehidupan. Ornamen kaligrafi berfungsi pula untuk menangkal gangguan roh jahat.

Warna-warna yang digunakan memilliki perlambang tertentu. Warna merah sebagai tanda persaudaraan, warna putih melambangkan kesucian, warna biru melambangkan kekuasaan laut, warna hijau melambangkan kesuburan, warna emas melambangkan kejayaan dan warna hitam melambangkan keperkasaan.

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews


About this entry