Rumah Limas, Rumah Adat palembang

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews

Rumah tradisional masyarakat Palembang disebut dengan ’rumah limas’. Denahnya memanjang dengan atap berbentuk perisai yang bagian depan dan belakannya dipangkas hingga membentuk trapesium. Variasinya pada bagian atas atap perisai diberi atap perisai lain yang sudut kemiringannya lebih tajam. Rumah limas Palembang merupakan rumah panggung yang bagian kolongnya merupakan ruang positif untuk kegiatan sehari-hari. Ketinggian lantai panggung dapat mencapai ukuran 3 meter. Pengaruh arsitektur Belanda membuat ketinggian panggung menjadi rendah dan kolong menjadi ruang negatif.

Rumah ini memilliki teras kecil berpagar tinggi sampai ke atap yang berhubungan dengan tangga masuk rumah. Pagar tinggi yang sekaligus menjadi dinding karawang berfungsi menghalangi pintu utama untuk langsung berhubugan dengan halaman luar. Posisinya di tengah dinding depan menghadap ke luar.

Di bagian depan terdapat ruang penerima tamu dengan dinding yang memilliki bukaan luas dengan adanya jendela-jendela yang berjajar. Ruang utama yang berada di tengah rumah disebut dengan ’ruang gajah’. Ruang gajah adalah tempat yang paling dihormati, posisinya dibatasi dengan tiang-tiang utama yang disebut dengan ’sako sunan’. Kamar-kamar tidur terletak di sisi kiri dan kanan berhubungan dengan dinding luar, sedangkan bagian belakang rumah berfungsi sebagai dapur.

Pembangunan rumah limas Palembang dimulai dengan upacara yang diadakan oleh keluarga dari orang yang akan membangun. Upacara mendirikan rumah ini dilakukan dengan menyembelih hewan ternak seperti ayam atau kambing, dengan mengajak tetangga sekitarnya. Dalam upacara dilakukan doa-doa dan dilanjutkan dengan pertemuan untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan pendirian rumah. Sebagai penutup upacara diadakan acara makan bersama.

Pengumpulan bahan bangunan biasanya sudah disiapkan terlebih dahulu sebelum atau sesudah upacara. Jika diperkirakan bahan bangunan tersebut cukup, maka yang berupa kayu harus direndam dalam air mengalir sampai enam bulan. Sampai pada waktu pembangunannya, bahan tersebut dikeringkan dan dipilih sesuai dengan elemen konstruksi yang akan digunakan. Sebelum memulai konstruksi diadakan upacara pendirian tiang dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing atau sapi. Upacara ini dengan mengundang seluruh tenaga kerja pembangunan rumah besarta masyarakat sekitarnya.

Masyarakat palembang memilih hari Senin sebagai hari baik dalam memulai pembangunan rumah. Tempat yang terbaik bagi pendirian rumah adalah lokasi yang dekat dengan sungai. Untuk mendirikan rumah, masyarakat menggunakan tenaga perancang yang memiliki pengetahuan dan adat membangun rumah. Tenaga ini biasanya memiliki ilmu turun-temurun sebagai ahli dalam bangunan tradisional. Mereka bukan hanya mengetahui sistem struktur konstruksi dan detail rumah, amun juga bisa memilih bahan bangunan/kayu yang baik.

Tahap pertama dari pembangunan rumah limas Palembang dilakukan dengan menggali tanah terlebih dahulu. Yang pertama kali dipasang adalah tiang tengah (sako sunan), yang dirangkai dengan balok2 penguatnya, kemudian baru memasang tiang-tiang lain dan merangkainya dengan balok lain pula. Pemasangan tiang-tiang ini berurutan dengan proses penggalian dan pengurugan tanah kembali.

Pekerjaan struktur ini dilanjutkan dengan pemasangan kuda-kuda dan rerangka atap sampai dengan penyelesaian konstruksi atap beserta penutupnya. Setelah bangunan memiliki atap, barulah dibuat elemen konstruksi lantai dan dinding. Sebelum memasang rerangka atap diadakan upacara naik atap. Demikian pula jika seluruh bagian rumah telah selesai, sebelum ditempati juga diadakan upacara yang bernama ’nunggu rumah’

kembali ke ARCHITECT-NEWS.COM archnews


About this entry